Jumat, 03 Juni 2016

BULAN TERBELAH DILANGITA MERIKA

Judul            : Bulan Terbelah di Langit Amerika
Pengarang  :   Hamun Salsabiela Rais
                        Rangga Almahendra
Penerbit      : PT Gramdia Pustaka Utama
Tahun terbit   : 2014
Cetakan           : Pertama
Tebal buku     : 451

Hanum Salsabiela Rais. Lahir pada 12 April 1982 di Yogyakrta. Adalah mantan presenter berita Reportase di Trans TV. Hanum merupakan putri dari Amin Rais. Ia menempuh pendidikan dasar Muhammadiyah di Yogyakarta hingga mendapat gelar Dokter gigi di FKG Universitas Gajah Mada.[1] Hanum mengawali karir sebagai jurnalis dan presenter di TRANS TV yang sangat ditekuninya. Hanum memulai pengembaraannya di benua Eropa bersama suami tercinta Rangga Almahendra yang menjuarai beasiswa pemerintahan Austria untuk studi S3 di WU Vienna. Di sana Hanum bekerja dalam proyek video podcast Excutive Academy di WU Vienna selama 2 tahun. Hanum juga tercatat sebagai koresponden detik.com bagi kawasan Eropa dan sekitarnya. Ia bekerja dengan sepenuh hati untuk berjuang di tanah Eropa di mana umat Muslim sebagai minoritas. Sungguh bukan sebuah perjuangan yang mudah untuk dapat bertahan hidup di dunia yang tidak memihak pada Islam.[2]

Rangga Almahendra. Adalah suami Hanum Salsabiela Rais, teman perjalanan sekaligus penulis kedua buku ini. Menamatkan pendidikan dasar hingga menengah di Yogyakarta kemudian berkuliah di Institut Teknologi Bandung, dan s2 di Universitas Gajah Mada, keduanya lulus Cumlaude.Memenangkan beasiswa dari pemerintah Austria untuk studi S3 di WU Vienna, Rangga berkesempatan berpetualang dengan isterinya menjelajah Eropa. Pada tahun 2010 ia menyelesaikan studinya dan meraih gelar doctor di bidang International business & Management. Saat ini dia tercatat sebagai dosen di Johannes Kepler University dan Universitas Gajah Mada. Rangga sebelumnya pernah bekerja di PT Astra Honda Motor dan ABN AMRO Jakarta.[3]

Pada tahun 2010, Hanum menerbitkan buku pertamanya berjudul Menapak Jejak Amin Rais: Persembahan Seorang Putri untuk Ayahnya Tercinta. Sebuah novel biografi tentang kepemimpinan, keluarga dan mutiara hidup. Setelah itu, ia menerbitkan buku Berjalan di Atas Cahaya dan 99 Cahaya di Langit Eropa yang kemudian diadaptasi menjadi film 99 Cahaya di Langit Eropa dan  99 Cahaya di Langit Eropa Part 2.



Sinopsis

Amerika dan Islam. Sejak 11 September 2001, hubungan keduanya berubah. Semua orang berbondong-bondong membenturkan mereka.  Mengakibatkan banyak korban berjatuhan; saling curiga, saling tuding, dan menyudutkan banyak pihak.

Ini adalah kisah perjalanan spiritual di balik malapetaka yang mengguncang kemanusiaan. Kisah yang diminta rembulan kepada Tuhan. Kisah yang disaksikan bulan dan dia menginginkan Tuhan membelah dirinya sekali lagi sebagai keajaiban.

Namun, bulan punya pendirian. Ini untuk terakhir kalinya. Selanjutnya, jika dia bersujud kepada Tuhan agar dibelah lagi, itu bukan untuk keajaiban, melainkan agar dirinya berhenti menyaksikan pertikaian antarmanusia di dunia.

“Apa? Wajah Nabi Muhammad junjunganku terpahat di atas gedung ini? Apa-apaan ini! Penghinaan besar!” seruku pada Julia. Mataku hampir berair menatap patung di dinding Supreme Court atau Mahkamah Agung Amerika Serikat, tempat para pengadil dan terhukum di titik puncak negeri ini.

“Jangan emosi. Tak bisakah kau berfikir lebih jauh, Hanum? Bahwa negeri ini telah dengan sadar mengakui Muhammad sebagai patron keadilannya. Bahwa Islam dan Amerika memiliki tautan sejarah panjang tentang arti perjuangan hidup dan keadilan bagi sesama.
“Akulah buktinya, Hanum.” 

Kisah petualangan Hanum dan Rangga di 99 Cahaya di Langit Eropa berlanjut hingga Amerika. Kini mereka di beri dua misi yang berbeda. Naumn, Tuhan menggariskan mereka untuk menceritakan kisah yang dimohonkan rembulan. Lebih dari pada sekedar misi. Tugas mereka kali ini akan menyatukan belahan bulan yang terpisah. Tugas yang menyerukan bahwa tanpa Islam, dunia akan haus kedamaian.

*****

Pasangan suami-isteri, Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra kembali membuat kejutan luar biasa bagi dunia, setelah sukses membuat banyak orang terkagum-kagum dengan karya sebelumnya 99 Cahaya di Langit Eropa. Kini mereka tak hanya mengguncang dunia Islam tetapi ke segala penjuru dunia. Sebuah petualangan yang mereka alami saat berada di negeri orang lain dikemasnya menjadi sebuah kisah yang sangat menakjubkan.

Hanum yang menjalani kehidupannya sebagai seorang isteri dari suami yang sedang melanjutkan studi S3 di Austria dan juga  seorang reporter pada sebuah media di Wina Austria mendapat sebuah tugas yang monumental dari dewan redaksi tempat hanum bekerja. Tugas yang memporak-porandakan perasaannya dan  mengancam keyakinannya. Wold The World be better without Islam? Apakah dunia akan lebih baik tanpa Islam. Sebuah penangguhan dari dewan redaksi yang harus dijawabnya sendiri mengenai keyakinannya telah membawa Hanum pada negeri Paman Sam. Bersamaan dengan itu suaminya. Rangga,  harus berangkat ke Washington DC untuk menghadiri konferensi Internasional yang ditugaskan oleh Profesor Reinhard.

Takdir memilih memisahkan mereka di negeri Amerika. Hanum yang terpaksa harus menetap di New york dan Rangga terpaksa meningglkannya demi memenuhi tugas presentasinya di Washington DC. Hanum terjebak pada kerusuhan yang terjadi di Ground Zero yang bertepatan pada peringatan 11 september delapan tahun silam. Ribuan nama manusia yang menjadi korban tragis kekejaman terror 9/11 tertulis di atas batu nisann di memorial park Peringatan yang awalnya berjalan haru kini berubah menjadi kerusuhan. Dikerumunan manusia yang sedang berolah Hanum kehilangan handphon genggamnya yang terlempar dan terinjak oleh ratusan pasang kaki. Hanum yang berjanji pada suaminya untuk menyusul dengan bus berikutnya Hanya bisa pasrah ketika mengetahui ia telah salah menaiki bus. Sebuah jalan keluar yang ditunjukan Allah dengan cara yang tak terduga telah membawa Hanum pada sebuah masjid yang akan menuntunnya betualang di Amerika tanpa didampingi sang suami kali ini.

Seorang wanita asal Amerika yang ternyata juga menjadi keluarga korban tregedi 9/11 akan membantu Hanum menemukan jawaban dari tugasnya. Benarkah dunia akan lebih baik tanpa Islam?. Benarkah Islam yang harus dipersalahkan dan bertanggung jawab atas tragedi runtuhnya gedung kembar World Trade Centre (WTC) di New York? Benarkah Islam yang menjadi penyebab kekacauan dunia? Benarkan Islam adalah agama ganas seperti yang mereka fikirkan?

Julia Collins. Bukan hanya menjadi penolong bagi hanum tapi ia adalah malaikat tak bersayap yang hanum temukan di tengah-tengah malapetakanya. Julia yang sejak delapan tahun lalu mencari kebenaran atas kematian suaminya dalam tragedi 9/11 kini bersedia menjadi narasumber Hanum. 11 september tidak hanya menjadi luka untuk Julia tapi juga telah mengubahnya. Ia memutuskan untuk kembali menggunakan nama aslinya sebagai Julia Collins dan menanggalkan hijabnya yang ketika itu namanya adalah Azima Hussein. Nama Islam yang berarti cita-cita yang tinggi. Sejak kejadian 11/9 betapa orang-orang muslim sangat terpojok. Mereka melarang pembangunan Masjid dan sulitnya seorang muslim menunjukan identitas dirinya yang juga menjadi alasan Azima menanggalkan hijab. Kejutan lain yang datang dari seorang Azima bahwa ia tengah bermain petak umpat dengan ibu kandungnya Hyacinth Collinsworth. Azima mengaku sebagai seorang Kristen di depannya dan berikrar Syahadat di belakanya. Begitu juga dengan Sarah –anak dari Azima-. Ia mendengarkan sang nenek membaca Al-kitab setiap malam sebelum tidur dan saat matahari menyapa fajar Azima mengajarkannya membaca Al-Quran. Tidak-tidak! Azima tidak betul-betul menanggalkan hijabnya, ia mengalami krisis Identitas, Ia menutupi Identitasnya sebagai Muslim dari Ibu kandungnya yang mengalami Alzheimer. Diam-diam rambut indah yang menghiasi parasnya adalah sebuah wig yang ia gunakan untuk menggantika hijab yang ia tanggalkan.

Beberapa tahun setelah peristiwa 11 September Azima memutuskan untuk bekerja di museum 9/11 demi mencari kenyatana yang tak tersingkap dari peninggalan terakhir suaminya, Abe. Berupa suara-suara kematian. Ia berharap akan menemukan pengunjung yang menjadi saksi hidup bagaimana Abe mengakhiri hidupnya. Atau menemukan seseorang yang mengenal Abe.

Julia menemukan banyak keanehan dan kejanggalan yang menyelimuti 9/11. Di sebelah 2 menara WTC yang sudah hancur lebur, terdapat satu gedung lain yang dinamai WTC 7, menyusul runtuh kemudian. Berita itu dikumpulkan Julia dalam bentuk keliping yang dikumpulkannya selama 8 tahun ke belakang. WTC 7 tiba-tiba runtuh beberapa jam kemudian mengahncurkan gedung 5 dan 6 yang berada di bawahnya, setelah menara Utara dan Selatan colaps. Padahal, gedung ini tidak ditabrak. Bahkan gedung ini dipisahakn sebuah blok jalan yang cukup jauh. Gedung lainnya yang didekatnya hanya mengalami kerusakan fisik seperti kaca pecah, tapi tidak sampai ambruk. Arsitek dan insinyur termasyhur, para ahli pembuat gedung pencakar langit tidak percaya gedung itu bisa habis meleleh. Gedung itu dirancang untuk tetap tegar dengan tahanan paling berat sekalipun. Bahkan jika hantaman pesawat itu jatuh menukik vertikal dan membelahnya. Ada satu penjelasan yang masuk akal mengapa kedua gedung itu bisa runtuh seketika dan sedemikian serempak. Satu alasan: struktur bajanya sengaja dilemahkan hingga tak kuat menerima beban. Sesederhana itu. Para korban yang selamat, sebagian besar adalah mereka yang berada di bawah impak pesawat. Saat melewati bagian anak tangga di lantai bawah, mereka mendengar ledakan berkali-kali. Kebetulan-kebetulan tak beralasan seolah beramai-ramai berkumpul pada hari itu. 11 september delapan tahun yang lalu telah merangkum banyak kejadian janggal dan aneh.  Pangkalan militer yang mengira pembajakan itu hanyalah simulasi latihan, badan pesawat yang hilang setelah menabrak gedung pentagon, dan CCTV saat itu mati, hingga paspor seorang muslim milik si “pembajak”, yang ditemukan utuh di tengah puing pesawat yang berkeping-keping. Tiba-tiba segala kebetula-kebetulan terjadi.

Di deretan kursi dalam sebuah bus, Rangga dengan seorang lelaki tua berkebangsaan Amerika, memulai percakapan yang akan membawa kita pada kenyataan-kenyaataan lainnya. Thomas Jefferson. Presiden Amerika yang menyingkap filasat revolusi, yang kemudian dikenal sebagai piagam hak-hak azazi manusia, diam-diam mahir berbahasa Arab, bahkan ia memiliki sebuah Al-quran. Tetapi Jefferson juga membuat bible-nya sendiri. The Jefferson Bible. Bedanya, dia mengubah-ubah isi bible itu. Agar tidak seperti Al-Kitab kaum Nasrani kebanyakan. Belum mampu Rangga memahami perkataannya, kini ocehan lelaki tua itu membjuat Rangga tercengang. Menurut lelaki tua, harus ada cara untuk mengurangi angka kepadatan penduduk di dunia yaitu dengan peperangan. Sebuah cara yang diadopsinya dari Al-Qur’an. Sungguh malangnya nasib pak tua yang menyalahgunakan makna perintah perang yang ada di dalam Al-Qur’an.

Kejutan lain datang dari Gertrud Robinson yang menambahkan Hanum sebuah tugas baru. Ia menugaskan hanum untuk mencari kaitan tentang sejarah Amerika dengan perkembangan Islam. Serta mencari jejek simbol-simbol Islam yang dipakai di pengadilan Amerika. Bahkan terdapat sebuah ukiran inskripsi ayat Al-Qur’an di sebuah pintu gerbang fakultas Hukum di Amerika yang begitu terkenal. Universitas Harvard.

Kesimpulan

Tiga hari terbuang sudah untuk traagedi-tragedi yang tidak di duga. Kini hanya ada 3x24 jam waktu  yang Hanum punya di Amerika untuk menyelamatkan keyakinannya. Namun, belum juga ada titik terang dari permasalahan yang sedang di hadapi. Mampukah ia menjawabnya, Menyelamatkan keyakinannya?, Benarkah Would the World Be Better Without Islam?”. Apakah Azima Hussein menemukan seseorang yang menjadi saksi hidup suaminya setelah delapan tahun mencarinya?. Semua pertanyaan ini akan dikupas tuntas dalam novel karya Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra. Sebuah novel yang dapat menuntun kita pada sebuah imajinasi yang tak pernah terbayangkan, bagaimana seorang wanita Islam begitu berani mempertaruhkan Keyakinanya di dalam sebuah medan yang mayoritas beramai-ramai menentang keyakinannya. Keberaniannya serta ketangguhannya patut menjadi contoh bagi umat muslim dunia sebagai Agen Islam yang berkualitas. Sebuah prestasi yang patut diberi apresiasi atas karya yang menakjubkan. Mengangkat kedamaian dan peran Islam di ranah dunia yang cukup mendapatkan gesekan negatif dari berbagai pihak.

Rabu, 27 April 2016

BLACK CAMPAIGN

1.      LATAR BELAKANG

Kata-kata mampu menembus benteng atau geladak kapal yang paling tahan meriam sekalipun. Napoleon lebih takut kata-kata daripada moncong meriam. Dia bisa lebih lembut dari sutera tetapi bisa lebih tajam dari samurai Toyotomi Hideyosi, pendekar Jepang jaman Azuchi Momoyama.
Black campaign itu ada. Apalagi disaat-saat calon kepala daerah mengkampanyekan diri kepada publik. Black campaign merupakan sisi lain keping uang. Disatu sisi model kampanye bersih terbuka dan disisi lain kampanye terselubung dengan maksud menjatuhkan lawan.
Kampanye offensive yang mencoreng muka lawan untuk dijauhi pemilih. Seturut dengan UU No. 32/2004 “kampanye pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah yang selanjutnya disebut kampanye adalah kegiatan dalam rangka meyakinkan para pemilih dengan menawarkan visi, misi, dan program pasangan calon” (pasal 1 ayat 23). Berbeda dengan kampanye hitam yang selalu bermuatan menjatuhkan lawan.

Secara harafiah  black campaign bisa diartikan sebagai kampanye kotor menjatuhkan lawan dengan menggunakan isu negatif tidak berdasar. Dahulu “kampanye hitam ini” juga dikenal sebagai whispering campaign melalui mulut ke mulut, bisa bisa lebih canggih dengan menggunakan media elektronik.
Secara umum  black campaign memiliki ciri yang sangat pokok yaitu lebih banyak bual daripada fakta. Memang mungkin saja terdapat satu atau dua fakta tetapi dia akan diolah sedemikian rupa untuk dilontarkan untuk mempengaruhi opini publik kearah yang negatif.
Black campaign  bisa merupakan serangan terbuka. Metode ini sangat mudah dikenali berniat menjatuhkan lawan. Berisi sisi negatif lawan dan selalu dilebih-lebihkan dengan fakta yang tidak jelas kebenarannya. Para pemilih harus mengamati mana yang fiktif dan yang sebenarnya.
Kampanye  kotor juga bisa dilakukan secara sporadis dengan menunggu momen yang tepat dan hilang dalam waktu yang cepat. Biasanya dia selalu menunggu saat yang tepat untuk menyerang, misalnya menunggu opini tertentu sebagai pembuka jalan. Jika pembahasan mereda ketika itulah “sang penyerang” hilang sementara.


Model lain adalah dengan melakukan bunuh diri. Biasanya “sang penyerang” melakukan hal ini juga dengan tertutup. Hebatnya ini adalah model  black campaign  yang sistematis. Kelompok lawan akan berupaya menyusupkan “orangnya” masuk ke kubu lawan. Bila si penyusup sudah masuk maka dia akan berupaya membuat sesuatu yang merugikan kelompok yang disusupi. Seringkali pernyataan yang keluar
justru kontraproduktif, misalnya membuat pernyataan yang membuat pemilih marah, benci dan kehilangan simpati. Hal ini tentu akan merugikan kelompok yang disusupi dengan merusak citra.
Tetapi yang pasti dari semua pola kampanye itu sangat sulit dibuktikan “pelaku intelektual” dibalik serangan tendensius dan negatif itu.
Dua unsur yang menonjol dalam black campaign  ini adalah berita yang keluar dari fakta, membesarbesarkan kenyataan, tendensius, dan berpotensi membunuh karakter. Ini tentu juga merugikan publik karena publik berhak mendapatkan berita yang benar dan berdasarkan fakta. Mengumandangkan sebuah pesan yang tidak berdasar pada fakta adalah pelanggaran terhadap hak publik.

2.PEMBAHASAN
“Tahapan kampanye Pilgub DKI Jakarta 2012 baru akan dimulai 24 Juni 2012, namun banyak ditemukan kecurangan-kecurangan di lapangan. Pasangan calon berlomba-lomba melakukan aktivitas yang pada akhirnya memberi pengaruh negatif pada pendidikan politik masyarakat,” ujar Ketua KIPP, Wahyudinata, di Gedung Sasana Prasada Karya, Jakarta, Kamis (7/6/2012).
Ia melanjutkan, segala macam kampanye negatif, adu domba, dan politik uang telah mencederai demokrasi pemilu DKI Jakarta 2012. Hal ini sangat meresahkan masyarakat. “Relawan KIPP di lapangan menemukan kurang lebih 2.000 selebaran yang masuk dalam kategori larangan kampanye. Kami menemukan di daerah Tambora,” tambahnya.
Permasalahan mengenai black campaign ini melanggar UU RI No 32 tahun 2004 mengenai Perda, pasal 116 ayat (1), (2), dan (3). Sehubungan dengan hal ini, KIPP meminta Panwaslu DKI Jakarta untuk menindaklanjuti temuan, mendesak kepada Panwaslu agar bekerja lebih maksimal dalam pengawasannya, mendesak kepada KPU agar segera memperingati dan menindak pasangan calon yang sudah melakukan kampanye di luar jadwal, dan lebih berkoordinasi dengan Satpol PP DKI Jakarta untuk lebih menertibkan dan membersihkan alat peraga para calon.
“Kejadian di Tambora ini sudah yang ketiga kalinya terjadi. Dan kami menyerahkan sepenuhnya penyelesaian kepada Panwaslu. Jika memang perlu untuk diproses secara hukum, akan kami tempuh jalur hukum,” tegas Marihot, anggota Tim Sukses Joko Widodo – Ahok, calon pasangan yang menjadi korban black campaign.

3.      KESIMPULAN
Simpulan yang dapat ditarik dari keseluruhan uraian di atas adalah Pertama, bahwasanya marketing politik sebenarnya disahkan dalam melaksanakan Politic campaign, namun dengan catatan marketing politic yang bersifat bersih. Kedua, bahwa seorang kandidat dan atau para tim suksesnya untuk melakukan black campaigndalam kampanye. Ketiga, bahwa berdasarkan ketentuan hukum yang dimuat dalam Undang-undang No. 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Teknologi Elektronik telah diatur mengenai upaya untuk mengatasi black campaign.



Sabtu, 19 Maret 2016

ISU SOSIAL

Realita Anak Jalanan Ditengah Uji Coba Kota Layak Anak

Fenomena social anak jalanan yang terjadi di sejumlah kota-kota besar seperti di Jakarta semakin hari semakin terlihat dalam akhir-akhir ini. Hal tersebut seakan menjadi sesuatu yang wajar terjadi di kota yang metropolitan seperti Jakarta ada sebagian orang yang melihat kehidupan anak jalanan dengan tatapan penih iba/kasian ingin membantu tetapi, ada pula sejumlah orang yang memandang rendah kehidupan anak jalanan dengan berbagai macam spekulasi yang mereka miliki.
Profesi yang dijalani oleh anak jalananpun cukup beragam dari mulai menjadi pengamen bernyanyi dari kendaraan umum yang satu ke kendaraan umum yang lainnya, Mengemis dari satu lampu merah ke lampu merah lainnya, memulung sampah dan sebagainya. Mereka melakukan hal itu semua bukan karena mereka menginginkannya melainkan mereka melakukan tersebut karena sudah menjadi tuntutan hidup mereka untuk menyambung hidup setiap harinya di ibu kota yang sangat besar ini.
            Mayoritas dari anak jalanan adalah anak-anak yang mempunyai umur 5tahun – 17tahun bahkan lebih dimana seharusnya mereka sedang asyik menikmati masa bermain mereka dengan teman sebaya mereka dan sedang rajinnya untuk menuntu ilmu di sekolah bersama dengan yang lain. Namun kenyataan lagi-lagi tidak seindah realita buktinya mereka harus berjuang hidup dikota metropolitan Jakarta hingga mereka harus putus dari bangku sekolah bahkan yang lebih parah dari itu ada sebagian dari anak jalanan yang belum sama sekali sempat menyentuh bangku pendidikan sekolah dasar.
            Hidup sebagai anak jalanan bukan lah hal yang mudah untuk dijalanin banyak hal yang harus mereka hadapi dijalanan terutama dari sisi keselamatan hidup mereka. Banyak hal yang tidak menyenangkan yang terjadi dan dialami oleh anak jalanan. Beberapa dianataranya adalah kejahatan premanisme yang selalu menjadi momok yang menakutkan bagi anak jalanan dimana mereka dipaksa mencari uang dalam jumlah yang tertentu lalu apabila uang yang mereka dapatkan sudah terkumpul maka mereka harus memberikannya kepada oknum preman disuatu wilayah yang mengaku sebagai penguasa daerah setempat.
            Para preman bahkan tidak segan untuk meminta para anak-anak dibawah umur tersebut untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak terpuji atau tidak pantas untuk dilakukan yaitu salah satunya adalah mencuri atau mencopet dompet atau mengambil barang yang bukan miliki mereka. Dimana, apabila mereka dalam sehari tidak memberkan uang jatah kepada preman-preman tersebut tidak banyak diantara mereka yang mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan seperti dibentak,dimaki, bahkan tidak jarang juga dapat pukulan dari para preman.
            Permasalahan anak jalanan datang bukan hanya dari para premanisme saja melainkan dari pemerintah pun juga ada yaitu sering terjadi razia anak jalanan yang dilakukan oleh pihak dinas social yang dibatu oleh sat pol pp dengan tujuan penertiban anak jalanan di ibu kota dimana mereka akan dibawa ke dinas social terkait untuk mendapatkan binaan dan bekal yang berguna saat mereka keluar dari dinas social tersebut mereka tidak perlu lagi harus kembali ke jalanan dan hidup sebagai anak jalanan lagi. Namun disayangkan mungkin cara melakukan penertiban yang dilakukan cukup membuat takut sejumlah anak jalanan takut sehinga setiap kali ada penertiban mereka memilih kabur dan lari dari pada harus dibawa ke dinas social bahkan tidak jarangjuga yang nekat hingga menjeburkan diri ke sungai atau bersembunyi di dalma selokan untuk menghindari petugas yang melakukan penertiban terhadap anaka jalanan.
    Hal yang lebih parah dari semua itu adalah ternyata tidak sedikit dari anak jalanan untuk bertahan hidup mereka rela melakukan perbuatan yang tidak boleh dilakukan oleh mereka. Dimana mereka menjadi korban prostitusi yang dimana dimanfaatkan oleh orang –orang yang tidakbertanggung jawab dan keji ini. Mereka dipaksa untuk melayani orang – orang yang penggila nafsu belaka dimana mereka cukup membayar kepada mucikari sejumlah uang dan kemudian mucikari tersebut memberikan uang ke pada anak jalanan yang menjadi korbannya dengan bayaran sangat amat kecil dan tidak pantas.
            Problematika anak jalanan khususnya perempuan malah lebih kompleks. Tidak hanya tekanan psikologis yang mereka terima seperti ejekan, caci maki, tetapi juga perlakuan tak wajar. Mereka kerap dituding sebagai anak liar atau pelacur yang menempatkan posisi anak jalanan perempuan pada posisi paling lemah. Maksud hati untuk mencari penghasilan demi kehidupan yang lebih baik malah dinodai oleh segelintir manusia bejat yang setiap saat mengintai. Bayangkan saja hanya mendapat duit 2000 rupiah sebagai imbalan mereka harus menjadi pemuas nafsu bejat remaja atau mungkin juga laki-laki dewasa. Kadang anak jalanan perempuan itu cukup dikasih nasi kucing dengan lauk seadanya sebagai imbalannya. Bukan maksudnya mereka harus mendapat imbalan yang lebih besar lagi. Tetapi kekerasan seksual yang mereka terima bisa berakibat fatal. Dari seringnya harus melayani hasrat para remaja atau lelaki bejat itu tak sedikit dari anak-anak perempuan itu yang beralih profesi menjadi pelacur cilik. Sebut saja T, anak perempuan jalanan yang beralih profesi menjadi pelacur karena sudah letih mengamen dan mengharapkan bantuan dari sesama anak jalanan.
Dia butuh makan, butuh hidup, malu kalau harus menjadi parasit. Dari coba-coba sesama anak jalanan akhirnya kalau ada yang menginginkan tubuhnya dibayar berapapun dia mau. Atau R, anak lelaki jalanan yang “pipis” saja belum lempeng harus memenuhi hasrat lelaki yang lebih tua darinya sehingga diapun harus ikut menanggung “kenikmatan” yang selalu nagih. Padahal anak seusia dia harusnya berkutat dengan buku bukan mikir siapa yang akan “mengajaknya” karena kebutuhan yang satu itu selalu nagih. Ini pun tak lebih juga cuma 2000 rupiah..hedehh “Hasrat dini” lah yang mengakibatkan anak-anak jalanan itu dewasa sebelum waktunya karena memikirkan hal-hal yang belum waktunya. Sungguh rugi nasib masa depan anak-anak itu. Anak-anak itu memang tidak menyadari bahaya yang setiap saat mengintai. Baik laki-laki atau perempuan mempunyai posisi kelemahan yang sama dalam hal ini. Mereka menjadi korban kebejatan para lelaki yang lebih tua dari usia mereka. Awalnya si perempuan cilik ini mulai digoda, dicolek, diraba, dicium. Dan para perempuan cilik itu pasti suka-suka saja menerima perlakuan yang “menyenangkan” karena mereka akan diiming-imingi duit 2000 atau 3000 rupiah. Lumayan buat makan siang.
 Jika sudah masuk perangkap maka mulailah mereka harus memelorotkan maaf..celananya untuk berhubungan seks karena duit yang dikasihpun tambah besar sekitar 5000 rupiah. Lumayan pikir mereka bisa untuk makan siang dan malam tanpa harus merepotkan orang tua atau memotong uang hasil mengemis atau mengamen. Dengan catatan, ini berlaku untuk anak-anak yang penurut. Bagaimana jika mereka berontak karena merasa kesakitan atau dipaksa melakukan hubungan seksual yang menyimpang, seperti anal dan oral seks? Manusia-manusia bejat itu tak segan-segan mengurung atau memperkosa mereka. Hal ini sering menimpa anak jalanan perempuan yang tidur di tempat-tempat sembarangan. Ironisnya perlakuan kekerasan seks terhadap anak jalanan perempuan tidak hanya dilakukan oleh sesama anak jalanan, tetapi kerapkali juga dilakukan oleh orang tua dan anggota keluarganya.
Hal ini bisa dimungkinkan bila anak-anak itu tinggal di rumah petak tanpa sekat yang dihuni oleh anggota keluarga laki-laki dan perempuan berbaur tanpa ada pemisahan saat mereka tidur. Perlakuan seks juga kadang mereka dapatkan dari kondektur bus, satpam, masyarakat umum hingga polisi. Menghadapi berbagai macam bentuk perlakuan ini tidak ada yang bisa mereka lakukan kecuali hanya diam dan menerimanya.
Melihat dari apa yang terjadi dan dialami oleh anak jalanan sontak membuat kita berfikir tentang sebuah kota yang memang pantas untuk menjadi tempat tinggal para anak-anak jalanan tanpa harus mereka mengalami yang namanya premanisme hingga menjadi korban seksualitas oknum yang tidak bertanggung jawab.
Data KPPPA hingga September 2015 menyebutkan, ada 264 kabupaten/kota yang menerapkan konsep KLA. Surakarta, Surabaya, dan Denpasar sejauh ini merupakan model terbaik karena selain komitmen pemerintah daerah, gerakan masyarakat juga aktif menyosialisasikan rumah, sekolah, lingkungan, hingga arena bermain ramah anak.
Fokus yang ditanamkan dalam kegiatan ini adalah pengenalan lima kluster hak anak kepada masyarakat secara luas. Lima kluster tersebut adalah hak dan kebebasan sipil; lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif; kesehatan dan kesejahteraan dasar; pendidikan, waktu luang, dan kegiatan budaya; serta perlindungan khusus.
Melalui lima kluster dasar tersebut, dibentuk indikator KLA yang menjadi panduan. "Dalam hal ini, segala aspek masyarakat, mulai dari pemerintah, dunia swasta, lembaga swadaya masyarakat, hingga keluarga, harus bekerja sama memenuhi indikator-indikator tersebut. Jadi, pelaksanaannya bukan sekadar simbolis," kata Lenny.
Pemenuhan hak dasar merupakan indikator pertama yang harus dilakukan. Di Indonesia, hak dasar yang belum dipenuhi adalah akta kelahiran untuk setiap anak. Rini Handayani, Asisten Deputi Pengembangan KLA KPPPA, menuturkan, baru 72 persen anak Indonesia yang memiliki akta. Tanpa dokumen tersebut, mereka tidak bisa mengakses layanan pendidikan, kesehatan, hingga pencatatan pernikahan ketika dewasa.
Jakarta, paling tidak harus dapat memenuhi hak dasar anak sebagai warga negara, yaitu adanya kemudahan dalam pembuatan akta lahir. Hal yang kedua adalah adanya fasilitas informasi serta ruang publik yang memudahkan bagi anak untuk beraktivitas, tumbuh dan berkembang. Ruang publik tersebut haruslah mudah diakses untuk anak serta disediakan gratis oleh pemerintah.
Fasilitas publik tersebut dapat berupa sekolah, perpustakaan, tempat bermain dan lain sebagainya. Kesemua fasilitas yang disyaratkan pada kriteria Kota Layak Anak juga haruslah memenuhi keamanan dan kenyamanan seorang anak serta bebas dari unsur kekerasan, diskriminasi dan rasialisme, kevulgaran dan pencabulan serta ekspos berlebihan terhadap data diri anak. Contoh konkretnya, bebasnya jalanan dari pelbagai iklan rokok yang dapat menyesatkan persepsi anak.
Ada lima tingkatan kriteria Kota Layak Anak, yaitu KLA Pratama, KLA Muda, KLA Madya, KLA Nindya dan KLA Utama. Sejak program Kota Layak Anak dicanangkan, sudah ada 100 kota yng berkomitmen untuk mewujudkannya. Namun kebanyakan kota barulah sampai pada tahap peraturan. Kalaulah ada kota yang memiliki forum anak, aktivitas dalam forum tersebut, masih banyak di intervensi oleh orang dewasa.

Melihat dari kehidupan relaita anaka jalanan yang terjadi dilapangan dan ditengah maraknya kota – kota yang berbondong – bonding membuat sebuah konsep kota layak anak. Sudahkah konsep itu benar-benar valid dan bias dirasakan dampaknya bagi mereka yang hidup sebagai anak jalanan?

Refernsi :

http://www.kompasiana.com/anna-risnawati/perilaku-seks-bebas-dan-liar-anak-jalanan_55200f17813311686e9de7c3

http://print.kompas.com/baca/2015/11/07/Membangun-Lingkungan-Layak-Anak

http://id.theasianparent.com/kota-anda-memenuhi-kriteria-kota-layak-anak/

Sabtu, 02 Januari 2016

TATA CARA PENULISAN ILMIAH

  1. Pendahuluan
                 Karya tulis ilmiah merupakan karya tulis yang menyajikan isi berupa ilmu pengetahuan, yang dikemas dalam format, sistematika, dan konvensi naskah tertentu, serta disampaikan dengan menggunakan bahasa yang resmi. Kemampuan menulis karya tulis ilmiah seseorang tidak hanya ditunjukkan dengan kemampuan mengelola gagasan atau ide dalam sarana tertulis, namun ditunjukkan pula dengan kemampuannya dalam menguasai konvensi naskah. Salah satu hal yang berkaitan dengan konvensi naskah adalah pengutipan.
                 Karya tulis ilmiah memerlukan perujukan, penegasan, dan penguatan dari peneliti sebelumnya atau sumber-sumber yang memperkuat dan memperkaya penelitian. Untuk itu, perlu dilakukan pengutipan terhadap hasil penelitian sebelumnya dan sumber-sumber lain untuk mendukung penelitian. Hal ini dilakukan untuk mengobjektifkan dan memperkaya materi penelitian di samping mencegah terjadinya plagiarisme. Ketika menetapkan penegutipan dengan sistem atau gaya tertentu, peneliti harus konsisten dengan sistem atau gaya tersebut.
  1. Pengutipan
Kata pengutipan berarti hal, cara, atau proses mengutip. Mengutip merupakan pekerjaan mengambil atau memungut kutipan. Menurut Azahari (dalam Alam, 2005:38) “kutipan merupakan bagian dari pernyataan, pendapat, buah pikiran, definisi, rumusan atau penelitian dari penulis lain, atau penulis sendiri yang telah (menurut penulis kata telah harus dihilangkan) terdokumentasi, serta dikutip untuk dibahas dan ditelaah berkaitan dengan materi penulisan”. Batasan di atas tidak hanya memaparkan hakikat kutipan, tetapi juga menjelaskan kepentingan mengutip, yakni untuk dibahas dan ditelaah. Hal ini mengandung pengertian bahwa pengutipan memiliki tujuan tertentu, bukan sekadar menambah jumlah paparan penelitian.
Walaupun penulis diperkenankan mengutip, bukan berarti tulisannya syarat dengan kutipan (perhatikan pula Keraf, 2001: 179). Tulisan hasil penelitian haruslah merupakan hasil
gagasan asli penulisnya bukan kumpulan kutipan pendapat pihak lain. Jika akan mengutip pertimbangkanlah jangan sering mengutip dengan cara langsung, variasikan dengan cara tidak langsung. Kutipan seharusnyalah dapat mengembangkan gagasan penelitian.
  1. Kaidah Pengutipan dalam Karya Tulis Ilmiah
            Mengutip merupakan pekerjaan yang dapat menunjukkan kredibilitas penulis. Oleh karena itu, mengutip harus dilakukan secara teliti, cermat, dan bertanggung jawab. Hariwijaya dan Triton (2011: 151) mengatakan bahwa ketika mengutip perlu dipelajari bagaimana teknik pengutipan sesuai dengan standar ilmiah (penambahan kata dengan oleh penulis). Untuk itu, perlu diperhatikan hal berikut: (1) mengutip sehemat-hematnya, (2) mengutip jika dirasa sangat perlu semata-mata, dan (3) terlalu banyak mengutip mengganggu kelancaran bahasa.
 Cara Mengutip
Ada dua cara atau sistem dalam mengutip sumber sebagai rujukan, yaitu sistem catatan dan sistem langsung. Pada sistem pertama identitas rujukan—nama penulis, tahun, dan halaman—tidak ditampilkan langsung, sedangkan pada sistem kedua identitas tersebut ditampilkan. Pada sistem pertama di akhir kutipan ditampilkan nomor berupa angka Arab, yang ditulis agak ke atas dengan ukuran huruf lebih kecil (superscript). Kemudian angka tersebut akan dirujukan kepada catatan kaki pada bagian bawah halaman. Dalam sistem catatan ini dikenal sistem tradisional dan sistem Harvard (Kalidjernih, 2010: 119). Pada sistem tardisional digunkan kata ibidloc cit, dan op cit untuk pengacuan rujukan sebelumnya, sedangkan dalam sistem Harvard tidak demikian.
Dalam hal cara mengutip ini, banyak sistem lain di samping dua sistem yang disebutkan di atas. Dalam makalah ini hanya akan dipaparkan sistem mengutip yang pada umumnya digunakan di Indonesia. Sistem ini pada pandangan penulis merupakan hasil kolaborasi atau kombinasi beberapa sistem yang dikenal di dunia. Makalah ini pun hanya akan menyajikan sistem pengutipan sumber dengan sistem langsung, sedangkan sistem catatan tidak akan dijelaskan. Sistem langsung ini menampilkan nama penulis, tahun, dan halaman atau penulis, tahun tanpa halaman.
Ada dua cara untuk mengutip, yaitu mengutip langsung dan mengutip tidak langsung.
Kutipan langsung merupakan salinan yang persis sama dengan sumbernya tanpa penambahan (Widjono, 2005: 63), sedangkan kutipan tidak langsung menyadur, mengambil ide dari suatu sumber dan menuliskannya sendiri dengan kalimat atau bahasa sendiri (Widjono, 2005: 64).
  1. Kutipan Tidak Langsung
        Cara melakukan kutipan tidak langsung adalah sebagai berikut:
  • Menggunakan redaksi dari penulis sendiri (parafrasa);
  • Mencantumkan sumber (nama penulis, tahun, dan halaman)
Contoh1:
Menurut salah satu historiografi tradisional, penyerahan kekuasaan kerajaan Pajajaran kepada Kerajaan Sumedanglarang berlangsung melalui penyerahan mahkota emas raja Kerajaan Sunda Pajajaran kep[da Prabu Geusan Ulun. Penyerahan mahkota secarasibolisbereti bahwa Sumedanglarang menjadi penerus Kerajaan Sunda (Suryaningrat, 1983: 20—21 dan 30).
  1. Kutipan Langsung
Cara melakukan kutipan langsung adalah sebagai berikut.
  • Jika kutipan empat baris atau kurang (langsung endek):
  • Dikutip apa adanya;
  • Diintegrasikan ke dalam teks paparan penulis;
  • Jarak baris kutipan dua spasi (sesuai dengan jarak spasi paparan);
  • Dibubuhi tanda kutip (“….”);
  • Sertakan sumber kutipan di awal atau di akhir kutipan, yakni nama penulis, tahun terbit, dan halaman sumber (PTH atau AuthorDatePage (ADP), misalnya (Penulis, 2012:100).
  • Jika berbahasa lain (asing atau daerah), kutipan ditulis dimiringkan (kursif);
  • Jika ada kesalahan tik pada kutipan, tambahkan kata sic dalam kurung (sic) di kanan kata yang salah tadi;
  • Jika ada bagian kalimat yang dihilangkan, ganti bagian itu dengan tanda titik sebanyak tiga biah jika yang dihilangakan itu ada di awal atau di tengah kutipan, dan empat titik jika di bagian akhir kalimat;
  • Jika ada penambahan komentar, tulis komentar tersebut di antara tandakurung, nislnya, (penggarisbawahan oleh penulis).
Contoh 2:
Ada beberapa pendapat mengenai hal itu. Suryaningrat (1983: 20—21 dan 30) mengatakan, “Menurut salah satu historiografi tradisional, penyerahan kekuasaan kerajaan Pajajaran kepada Kerajaan Sumedanglarang berlangsung melalui penyerahan mahkota emas raja Kerajaan Sunda Pajajaran kep[da Prabu Geusan Ulun. Penyerahan mahkota secara simbolis berarti bahwa Sumedanglarang menjadi penerus Kerajaan Sunda,”
 Lebih dari Empat Baris (Langsung Panjang):
  • Dikutip apa adanya;
  • Dipisahkan dari teks paparan penulis dalam format paragraf di bawah paparan penulis;
  • Jarak baris kutipan satu spasi;
  • Sertakan sumber kutipan di awal atau di akhir kutipan, yakni nama penulis, tahun terbit, dan halaman sumber, misalnya (Penulis, 2012:100).
  • Jika berbahasa lain (asing atau daerah), kutipan ditulis dimiringkan.
Contoh 3:
Mengenai pentingnya penelitian di lokasi tersebut Triwurjani dkk. (1993: 7—43) mengatakan sebagai berikut:
Penelitian secara lebih intensif di kawasan Danau Ranau pada tahun-tahun sesudahnya masih dilakukan, yaitu pada tahun 1993 tim Pusat Penelitian Arkeologi Nasional kembali melakukan penelitian berupa survei pada situs-situs di kawasan Danau Ranau, baik yang secara adminstratif berada di Kabupaten Lampung Barat maupun Kabupaten OKU (Ogan Komering Ulu), Provinsi Sumatera Selatan. Penelitian yang dilakukan menunjukkan temuan-temuan arkeologis dari beberapa situs yang diperoleh memiliki ciri prasejarah hingga klasik.
  1. Simpulan

Pengetahuan cara mengutip yang benar perlu didapatkan oleh para penulis karya tulis ilmiah. Hal ini bukan saja terkait dengan pengelolaan informasi dari sumber yang diperlukan, melanikan juga terkait dengan persoalan keabsahan karya tulis itu sendiri karena karya tulis harus terhindar dari praktik plagiarisme. Jika sudah menetapkan suatu sistem kutipan, penulis harus konsisten dengan sistem tersebut. Berlatihlah untuk mengutip dengan cara yang benar.

 Daftar Pustaka
Akhadiah, Sabart dkk. 1989. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia.
Jakarta: Erlangga.
Alam, Agus Haris Purnama. 2005. Konsep Penulisan Laporan Ilmiah. (Format dan
Gaya). Bandung: YIM Press.
Anggarani, Asih, dkk. 2006. Mengasah Keterampilan Menulis Ilmiah di Perguruan
Tinggi. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Arifin, E. Zaenal. 2004. Dasar-Dasar Penulisan Karangan Ilmiah. Jakarta: Grasindo.
Hariwijaya, M. 2006. Pedoman Teknis Penulisan Karya Ilmiah Skripsi, Tesis dan
Disertasi. Yoyakarta: Citra Pustaka.
Hariwijaya, M. dan Triton P.B. 2011. Pedoman Penulisan Ilmiah Skripsi dan Tesis.
Jakarta: Oryza
Hs., Widjono. 2005. Bahasa Indonesia Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian di
Perguruan Tinggi. Jakarta: Grasindo.
Kalijernih, Freddy K. 2010. Penulisan Akademik Esai, Makalah, Artikel Jurna Ilmiah,
Skripsi, Tesis, Disertasi. Bandung: Widya Aksara Press.
Keraf, Gorys. 2001. Komposisi. Cet. XII. Ende: Nusa Indah.
Mulyono, Iyo. 2011. Dari Karya Tulis Ilmiah Sampai Dengan Soft Skills. Bandung:
Yrama Widya.
Nasution, S. dan M.Thomas. Buku Penuntun Membuat Tesis, Skripsi, Disertasi,
Makalah. Jakarta: Bumi Aksara.
Sudjiman, Panuti dan Dendy Sugono. 1991. Petunjuk Penulisan Karya Ilmiah. Jakarta:
Kelompok 24 Pengajar Bahasa Indonesia.
Suyatno dan Aserp Jihad. 2011. Betapa Mudah Menulis Karya Ilmiah. Yogyakarta:
Multi Solusindo.
Suyitno. 2011. Karya Tulis Ilmiah (KTI) Panduan, Teori, Perlatihan, dan Contoh.
Bandung: Refika Aditama.
Tim Penyusun. 2010. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Bogor: FakultasTeknologi
Pertanian Institut Pertanian Bogor.

http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbbandung/2014/11/27/kaidah-pengutipan-dalam-karya-tulis-ilmiah/